Rabu, 21 Desember 2011

Posted by Unknown | File under :

Terorisme, sebuah kata yang mungkin tidak asing lagi di telinga kita. Satu kata namun punya seribu makna. Agak berlebihan memang, tapi itulah kenyataannya. Terorisme telah membuat puluhan bahkan ratusan anak harus menjadi yatim karena kehilangan ayahnya, terorisme yang membuat banyak anak putus sekolah karena orang tua mereka kehilangan tempat bekerjanya, terorisme pula yang membuat puluhan orang harus menanggung derita karena kehilangan anggota tubuhnya bahkan anggota keluarganya.
           

 Satu pertanyaan besar yang selalu ada di benak saya apakah pelaku teror itu memikirkan akan dampak dari perbuatannya itu? Jawabanya mungkin iya mungkin juga tidak. Jika jawabannya iya berarti pelaku teror itu tahu akan akibat dari perbuatannya, tahu semua resiko dan dampak yang akan timbul setelah perbuatannya itu. 

Namun mengapa para pelaku teror tetap melakukan aksi biadab mereka itu? Radikalisme dan pemahaman yang dangkal tentang makna jihad adalah jawaban itu semua. Para teroris itu menganggap bahwa dengan menyerang, dalam hal ini melakukan bom bunuh diri, kelompok yang menurut mereka kafir merupakan hal yang dibenarkan. Padahal agama manapun itu tidak pernah ada yang mengajarkan kekerasan apalagi saling membunuh, kecuali dalam keadaan perang atau diserang terlebih dulu. Namun para teroris itu melakukan aksinya di tempat damai, di negeri kita tercinta, di Indonesia, tentu saja hal tersebut sangat tidak dibenarkan. Orang-orang tidak bersalah harus membayar kebodohan dan kedangkalan pemahaman para teroris yang biadab itu.

0 komentar:

Posting Komentar