Rabu, 10 April 2013

Posted by Unknown |

Salah satu tugas seorang pemimpin memang membuat keputusan, tapi pemimpin itu baru diuji ketika ia harus mengambil keputusan yang sulit dan sama sekali tidak popular.
Bagaimana pemimpin itu mengambil resiko dari keputusan yang akan ia ambil, bagaimana ia memilah dan mengesampingkan berbagai kepentingan di setiap keputusan yang ia ambil, tentu bukan hal yang mudah.


Sebagai contoh, bagaimana beratnya seorang presiden harus mengambil keputusan untuk menaikkan harga BBM. Di satu sisi presiden harus menyelamatkan anggaran negara dengan mengurangi beban dari subsidi bahan bakar, tapi di sisi lain ia harus memikirkan nasib rakyat kecil yang hidupnya sangat bergantung dari subsidi bahan bakar. 
Pilihan yang sulit tentunya, tapi disitulah letak pengorbanan seorang pemimpin, dari situlah pemimpin diuji apa ia rela mengorbankan pencitraan dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kapabilitas kepemimpinannya demi keputusan yang dampaknya belum akan terlihat dalam jangka pendek.

Jika ia berani mengambil keputusan yang tidak popular itu tentu efek paling cepatnya adalah menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kapabilitas kepemimpinannya, hal tersebut mungkin wajar karena pada dasarnya masyarakat tidak melihat point of view masalah tersebut dari sisi si pemimpin,  bisa jadi masyarakat hanya melihat masalah tersebut secara parsial tanpa menghubungkan dengan masalah lain yang tentunya akan menimbulkan banyak pertimbangan-pertimbangan lain. 
Inilah yang seharusnya dilakukan oleh pemimpin, mengkaji suatu problem secara komperhensif dan menghubungkan dengan masalah masalah lain yang berkaitan sebelum mengambil sebuah keputusan. So, keputusan yang sulit dan tidak popular kadangkala memang perlu diambil oleh seorang pemimpin.






-apa yang gue tulis diatas bukan cuma terjadi pada pemimpin pemimpin tingkat atas kayak presiden, dll tapi pasti terjadi di semua organisasi atau lembaga termasuk yang sedang gue jalanin,,hmmm sulit memang-






Posted by Unknown |

Akhirnya semua akan tiba pada suatu masa
Saat sepi mulai menjadi biasa
Salahkah diri ini yang diam tak pernah berkata
Atau haruskah aku mengolok-olok takdir yang nyatanya tak pernah lagi mempertemukan kita

Kembali ke masa saat pagi masih saling menyapa
Saat dinginnya pagi tertutup cerita
Adakah hal itu bisa terulang
Atau mungkin diri ini memang terlalu berharap pada asa yang salah